Rabu, 24 Juni 2009

thekupu: Wanita Embrio


Sudahkah saya paparkan, kawan? Sudah? Ah masa iya? Yakin, sudah? Coba kasi liat di mana? Memang tidak ada, kawan. Baru sedikit saja. Baru sebaris, berbunyi: diary365metamorphoself. Hadiah untuk saya sendiri, pada tanggal 8 Oktober 2007.

Sudah lama ya, kawan... As the title, bukunya berjudul: diary. Yah, ia adalah sebuah diary. But as the additional title: 365metamorphoself. Isinya adalah serangkaian penuh kalimat motivasi, agar saya tak lupa tujuan hidup yang takkan pernah saya temui penghujungnya di dunia ini: Berubah, Menjadi Lebih Baik, dan Sesuai Jati Diri.

Ah, kenapa tiada penghujungnya, kawan? Baiklah, akan saya paparkan, dari kacamata seorang wanita yang beraniberaninya menyatakan dirinya sebagai wanita, padahal ia masih embrio kecil yang selalu inginkan cahaya semangat itu terus mengalir dalam tiap denyut nadinya.



Tiada penghujung, kecuali setelah saya tak lagi hirup udara segara dari kebun kenikmatan di dunia ini. Taman Bunga. Mari sesekali datang ke sana. Lihatlah, sepasang sayap indah, lembut, berwarna-warni. Ah, cantik sekali bunga-bunganya. Makhluk kecil lucu yang punya sayap itu, juga lucu sekali. Cantik. Mulut mungilnya menghisap madu, pelan-pelan, lembut, tidak tergesa-gesa. Wanita embrio ini masih mengaguminya, sampai di penghujung hidupnya. Bentuknya indah, ya kawan. Ah, tapi apa itu yang ada di daun? Menjijikkan.


Wanita embrio terus memperhatikan. Kecil, menjijikkan. Minutes to minutes, hours to hours, days to days, wanita embrio terus memperhatikan sampai terkadang tertidur kelelahan. Untung saja hanya tertidur. Allah Maha Penyayang, memberi kesempatan kepada wanita embrio untuk menyaksikan dengan matanya sendiri *walaupun makin hari minusnya sepertinya semakin menjadi*, sebuah keajaiban dunia tingkat tinggi: ulat itu hilang lenyap pergi, berpuasa sekian hari, menjelma menjadi kupukupu cantik!

Ah, rupanya kupukupu cantik itu dulunya menjijikkan! Wanita embrio semakin terpana. Subhanallah. Sabar sekali ulat kecil menjijikkan itu. Larva, kepompong, imago. Proses nimfanya juga, membuatnya cantik luar biasa, meskipun wanita embrio itu mengerti, pembesaran dan pergantian kulit di proses nimfa, luar biasa sakitnya. Tapi imagonya sungguh indah! Cantik, mempesona.

Wah, ulat kecil menjijikkan itu barangkali sudah belajar tentang tiga hal: Berubah, Lebih Baik, dan Jati Diri. Wanita embrio itu mulai berfikir. She is contemplating. "Harus sampai kapan menjadi embrio?". Ah, tapi sejenak ia teringat katakata Jalaluddin Rumi: Bergeraklah seperti embrio! Kembangkan pancaindra yang dapat melihat cahaya. Matangkan dalam dunia-rahim ini, dan persiapkan untuk kelahiran keduami dari dunia menuju ketakterhingaan.

Wanita embrio terdiam, menarik nafas perlahan, tersadar. Rupanya ia mendapat selintas cahaya! Ah, sayang sekali hanya selintas. "Tak bisakah ia melintas sekali lagi?" harap wanita embrio dalam hati. Wanita embrio terus menanti. Menanti dalam ketidaksadarannya, menanti dalam kelenaannya akan dunia, menanti dalam kasih sayang Allah Pembolak balik hati, terus menanti, tak pernah berhenti.

Rekayasa Allah SWT selalu indah, tak pernah salah, dan pasti penuh berkah. Itulah sebabnya, mengapa wanita embrio selalu menanti, menanti sampai ia mati. Takkan berhenti dan tak ingin berkata kalah. Takkan peduli gejolak ombak. Takkan hiraukan gemulai badai. Takkan berhenti, meskipun tiada penghujung di dunia ini.

Penantian dalam begitu banyak keterbatasan, demi 3 kata: Berubah, Lebih Baik, Jati Diri. Ah, siapa sebenarnya mereka, 3 kata itu? Mengapa mereka begitu diinginkan oleh si wanita embrio? Lalu, apa hubungannya dengan pengembangan pancaindra untuk melihat cahaya? Mengapa wanita embrio begitu ingin mematangkannya dalam dunia-rahim demi kelahiran kedua? Baik, kita simak setelah yang berikut ini *eh, ini postingan versi serius, dini! Jangan maen-maen!*

Baiklah, baiklah... Mari kita mulai, mencari tau terlebih dahulu, siapakah atau apakah yang sesungguhnya dinantikan oleh sang wanita embrio.



Mari mulai dengan kata: BERUBAH.

Tak ada yang akan memberikan sangkalan pada pernyataan bahwa semua orang pasti berubah. Bahkan telah diyakini, tak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri. Pun, begitu dengan apa yang terjadi pada wanita embrio. Kedua matanya yang ikut menantikan cahaya, melihat dengan baik fakta ini, dan tak kuasa untuk tak menjadi dewasa dengan cara menolaknya. Itu fakta, kan kawan? Bukankah akan menjadi sangat tidak dewasa ketika sang wanita embrio menolak fakta bahwa segala sesuatu pasti berubah? Itulah sebabnya, sang wanita embrio menanti perubahan, pada dirinya, pada hidupnya, di semua lini.

Mari lanjutkan dengan kata: LEBIH BAIK.

Sang wanita embrio sangat sakit sekali. Sungguh sakit ketika ditampar, dibangunkan dengan kasar, dan dilemparkan ke tepi istana penuh singgasana. Terlempar, tapi terbangun sadar! Pantaslah saya ditampar! Rupanya, perubahan yang saya agungagungkan waktu lalu, tidak berjalan sesuai dengan filosofi perubahan bayi. Wanita embrio kemudian menyimak sebuah suara: ada tangisan, ada ucapan terbatabata berbunyi "Umi umi, abi abi, mama mama, papa papa" yang menggemaskan hati, ada teriakan riang di tengah lapangan rumput hijau, hingga kegelisahan suara remaja untuk berbelok ke kanan atau ke kiri. Wanita embrio tersadar oleh suarasuara itu. "Tamparan tadi pastilah karena perubahanku terjadi tak mengarah pada sebuah kemajuan", ujar wanita embrio, melanglang buana jauh ke dalam hati. Rupanya, tamparan itu sangat tepat hari ini. Wanita embrio mulai paham, bahwa perubahan saja tidak cukup. Harus dilengkapi dengan kata: Lebih Baik. Maka, tertatihlah wanita embrio berjalan, menuju perubahan yang lebih baik.

Mari, akhiri ia dengan kata: Jati Diri.

Wanita embrio mulai merisau lagi. Sudah hampir lelah berjalan, mencaricari cahaya, yang pelanpelan mulai tiba di hatinya, tapi kenapa masih saja merisau? Cari apalagi, wahai wanita embrio? Perjalanannya sudah benar, tujuannya sudah ada, meskipun pasti nanti akan dihalangi dan terhalangi beragam bentuk duri. Duri itukah yang membuat risau? Ah, tidak rupanya. Wanita embrio melihat, sebuah tanda besar setinggi cakrawala: Jati Diri. Apa lagi itu? Dalam perjalanannya, wanita embrio hanya melihat beberapa buah pohon berjejer, dan ada label: POHON JATI. Apakah ia semacam pohon?

Lantas, lexical otak sang wanita embrio mulai bergerak. Otaknya berputar pada porosnya. Apa hubungannya perubahan yang lebih baik dengan sebuah pohon? Ia pun mencaricari, apa itu jati. Eureka! Jati, berasal dari kata sejati, rupanya. Sejatining Diri. Jati diri. Diri yang sejati. Diri yang bukan tiruan. Diri yang tak dibuatbuat. Yang paling penting: Diri yang pas dengan sang wanita embrio. Ya! EUREKA! Itu dia jati diri!!

Wanita embrio kini tersenyum, senyuman sangat manis sekali. Senyuman yang membuat orang di sekelilingnya tersenyum pula. Bahkan, senyuman yang membuat mereka yang belum menemukan jati diri pun tersenyum. Mereka saling bertanya: apakah wanita embrio sudah menemukan jati dirinya? Wanita embrio kemudian mengajak mereka menonton sebuah film berjudul Means Girl. Dengan diplomatis, dipaparkannya seorang tokoh bernama Cady Heron yang bermetamorfosis dari gadis lugu menjadi gadis populer. Dengan runtut, diceritakannya bahwa proses Cady dalam kisah itu, tak dibarengi dengan prinsip be yourself. Diperlihatkannya langsung melalui film itu, Cady dijauhi teman-temannya dan merasa tak nyaman dengan diri Cady yang baru.

Sanguinis, koleris, melankolis, plegmatis. Wanita koleris sudah selesai menonton film, dan sekarang sedang berada di perpustakaan. Ia mengobservasi 4 kalimat menarik itu. Sanguinis, dengan ciri khasnya. Koleris, dengan ciri khasnya. Melankolis, dengan ciri khasnya. Plegmatis, dengan ciri khasnya. Jantung sang wanita embrio berdegup sangat kencang ketika sampai pada bab Sanguinis. "Ah, kenapa penulis buku ini membicarakan diri saya?", tanya wanita embrio dalam hati. Sedikit degupan juga dirasakan ketika wanita embrio menelaah bab Koleris, Melankolis, dan Plegmatis. Wanita embrio kembali tersenyum, senyuman manis, sungguh sangat manis. Rupanya di sana ia berada. There she is, with fully creamy smile.

Cukupkah sebegitu? Wanita embrio masih merasa kurang. Ia sekarang mencari cara untuk mengintegralkan 4 kalimat yang ada dalam bab buku tadi. Tujuannya adalah agar integrasi mereka bermuara pada rangkaian kalimat indah: Berubah menjadi Lebih Baik dan sesuai dengan Jati Diri. Wanita embrio sekarang tersenyum lagi, sambil bertanya dalam hati: "Sudahkan aku temukan yang aku cari?"

0 comments:

Posting Komentar

Thank you to read. And much more thanks to comment :)

 

Sharing idea. Sharing things. Copyright © 2009 Flower Garden is Designed by Ipietoon blogger template for web hosting Flower Image by Dapino