Sabtu, 29 Desember 2012

Worst Words of 2012

2012 has been an interesting time in the life of our lexicon. From new coinages to new usages, English has had a nice growth spurt. But now as this century enters its teens, let's say goodbye to some of the words we've grown out of. Some words outgrow their usefulness, or through overuse, they become meaningless, like an overplayed song on the radio. Here are a few terms that we'd rather leave behind in 2012.

Fiscal Cliff — the most overused term in 2012 politics.

This phrase rose to prominence when Ben Bernanke, the chairman of the United States Federal Reserve, in a speech in February. "Fiscal cliff" is meant to describe what will happen to America's tax policy and spending plan in 2013 if Congress fails to address certain plans that are already in motion.

Is it actually a cliff? No. Will it change our economic lives so drastically that we'll have to flee to the woods and build log cabins? No. Have politicians and pundits used the term with such abandon that it's lost all meaning and now has more to do with scaring tax payers/civilians than writing fiscal policy? You bet!

Selfie — a picture you take of yourself by holding the camera at arm's length, recognizable by the fact that your arm is in the picture.

Epic — hyperbolic synonym for incredible, great, important.

This word is so overused that we've had it on banished word lists three years running. But epic refuses to stay gone. Here's our reasoning: Unless your outfit or car is so tectonically earth-shattering that the poets will be singing its praises for 2,000 years to come, unless it has been to hell and back and is ostensibly banging on the gates of Troy. . . it's not epic.

Humblebrag — using humility to cover up the fact that you're actually bragging. This technique often backfires, making the brag worse, i.e. "People just won't stop texting me, you're lucky you have so much time to yourself."

TLDR — acronym for "Too Long, Didn't Read."

Our advice: If you find yourself moved to type this non-sentence, take a good look in the linguistic mirror and picture yourself on the other end of that email. At the very least try TLSI: Too Long, Skimmed It.

To trend/trending — to become popular.

As we predicted in our unheeded ⁠January list of words to banish from 2011⁠, this maddeningly unspecific verbification is still going strong.

To curate – to organize information on a web page or other non-museum entity.

Museums have curators, galleries have curators–are you a curator because you found 10 cute puppy photos and posted them on your wall? Probably not. Did we just curate this banished words list? We'd rather not say.

Bubble — used as a suffix to describe any group or community. . .ever.

The college bubble, the liberal bubble, the conservative bubble, the California bubble, the American bubble…if we get to the "Earth bubble" something is going to pop.

Hashtag — a Twitter symbol that has grown into an orthographic monster.

What began as a "pound sigh" or "number sign" and became a method for Twitter users to search tweets with common topics has morphed into the new URL. (Wondering what "URL" stands for? Watch ⁠the computer terms slideshow⁠.) Obviously we're over it, but we're not everyone. See our thorough discussion of the hashtag–and its real name–⁠here⁠.

To reach across the aisle -- an attempt at bipartisan politics in the United States Congress.

What separates Democrats from Republicans? Is it fiscal policy? Social issues? No, it's the aisle! Our legislators need only to reach across that small span of carpet to govern cooperatively, but once that gap is breached, what do they do? Perhaps they lightly drop an olive branch on the opposing party's desk, or yank them back to their side by the lapel. We don't know–the term only goes to the aisle.

Hipster⁠ — the flannel-wearing, liberal arts-educated, indie music-listening, director name-dropping, craft beer-drinking, 20-or-30-something dude or dudette that you've definitely seen and possibly are.

According to ⁠the Google Ngram Viewer⁠, use of the word "hipster" spiked in 1961, dropped by over half in the mid 80s, and clawed its way back to prominence in the new millennium.

YOLO – really annoying acronym for "You Only Live Once."

Thanks Drake. Thanks a lot. The fun catch phrase born in the rapper's single "The Motto" has spread like a forest fire through the vocabularies of what feels like every English speaker under 25, and now the term is just an excuse for teenagers to act like idiots. "Should I run into oncoming traffic? YOLO!" Its verb form "YOLOing" is just as cringe-worthy: "Great night of YOLOing, good thing I woke up in time for dinner." Sure, go ahead and YOLO. As far as science can tell us, you do only live once. But before you eat that live tarantula, take a minute and think about how long you want to be YOLOing for.

Here ends our 2012 list of words to banish. Please understand: this list is not a promise; it's a request. We are not in the business of removing words from the dictionary, so it behooves us to turn to you, gentle reader, and ask you to remove them from your speech.

What are the words that you want to leave behind in 2012?


Kamis, 27 Desember 2012

Buah Kejujuran

"Wahai orang-orang yang beriman, 
bertaqwalah kamu kepada allah dan 
katakanlah perkataan yang benar. 
Niscaya Allah memperbaiki bagimu 
amalan amalanmu dan mengampuni 
bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya 
maka  seseungguhnya ia telah 
mendapat kemenangan yang besar. [al-Ahzab ayat 70-71]
Alangkah besarnya buah kejujuran.. Jujur dalam i'tiqad, jujur dalam berbicara dan dalam beramal.

Kejujuran akan membimbing si pelaku kepada bir (perbuatan taat) di dunia yang merupakan induk perbuatan baik, dan juga akan mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah Azza wa Jalla. Jadi orang-orang yang jujur akan kekal di surga. Mereka mendapatkan kesenangan yang sangat diidamkan, yang melebihi kedudukan ini, yaitu keridhaan Allah.

Perbuatan jujur membimbing si pelaku kepada perbuatan bir, kemudian ke surga. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ

"Sesungguhnya kejujuran itu akan membimbing ke perbuatan bir, dan perbuatan bir akan membimbing masuk surga".

Di antara manfaat kejujuran, ialah mendapatkan ridha Allah, kemudian akan dimasukkan ke dalam surga. Allah berfirman, yang artinya: " Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun ridha terhadapnya. Itulah keberuntungan yang paling besar". [Al Maidah:119].

Berbahagialah orang-orang yang jujur. Semoga Allah dengan karunia dan rahmatNya, menjadikan kita termasuk orang-orang yang jujur. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih, Maha Dermawan dan Maha Pemurah.

Oleh: Yuko Siswanto

Selasa, 25 Desember 2012

Toleransi Tak Sebatas Selamat Hari Raya

*oleh Darwis Tere Liye

Saya akan sampaikan maksud dan tujuan ini dengan cerita saja. Seolah fiksi, tapi bentuk kongkretnya bahkan lebih cemerlang dibanding ini. Amat sangat cemerlang malah, saat akhlak yang sungguh baik, terpancar begitu indah dari seorang muslim, tanpa harus merusak akidahnya. Karena sejatinya, ketika seorang muslim mempunyai akhlak tersebut, dia pasti akan membuat nyaman siapapun di sekitarnya.

Kita sebut saja Bambang. Orangnya biasa saja. Rajin shalat ke masjid, bergaul dengan tetangga, suka membantu, dan amat menyantuni fakir miskin serta anak yatim. Dia dikenal oleh banyak orang, satu kampung hafal dengan Pak Bambang ini. Terlebih kampung itu dihuni oleh warga heterogen. Beragam agama, banyak suku bangsa, kebiasaan, tumplek jadi satu.

Saat tetangga sebelah rumahnya, Pak Sihombing, asli Batak, hendak pergi ke gereja di suatu hari Minggu, mobil tetangganya ini malah mogok, tidak bisa dibawa, Pak Bambang dengan senang hati meminjamkan mobilnya, "Silahkan dipakai." Tersenyum tulus. Toh, seharian minggu itu keluarga Pak Bambang hanya kumpul di rumah. Saat tetangga lain rumahnya kena musibah, kebakaran, Pak Bambang tidak perlu dua kali berpikir memberikan bantuan, membuka pintunya untuk menampung, padahak jelas-jelas tetangganya ini Hindu. Pak Bambang menyantuni anak anak yatim piatu, tidak perlu bertanya ini agamanya apa. Bahkan saat sebuah kampung yg dekat dgn kampung mereka kena musibah, banjir bandang, meskipun sekampung itu Kristen, ada gereja yang rusak, Pak Bambang tidak perlu berpikir dua kali untuk membantu mengirimkan sembako, dan sebagainya.

Tapi seumur-umur, tetangganya tahu persis Pak Bambang tidak akan pernah mengucapkan 'selamat natal', 'selamat waisak', dan selamat lainnya kepada tetangganya yang berbeda agama. Tidak akan. Lah, tega sekali pak Bambang ini? Apakah dia ekstrem kanan hingga tidak mau hanya sekadar bilang kalimat itu? Maka tanyakanlah pada tetangganya yang berbeda agama. Tidak terbersit sekalipun mereka menganggap Pak Bambang ini ekstrem. Yang ada, jelas sekali Pak Bambang ini tetangga yang baik, nyaman, dan selalu menghormati mereka.

Kita tanyakan ke Pak Bambang kenapa dia tidak pernah bilang 'selamat natal'? Maka jawabannya sederhana: 'ada batas yang tidak bisa dilanggar dari akidah'. Jawaban simpel yang menjelaskan banyak hal. Itu benar, membantu tetangganya, meminjami mobil, tidak ada sangkut pautnya dengan akidah, keyakinan. Membantu tetangga menumpang, menyantuni anak2 yatim piatu berbeda agama, tidak ada sangkut pautnya dengan akidah, keyakinan. Termasuk membantu satu kampung yang seluruhnya Kristen, mengirimkan makanan karena mereka terkena musibah, itu bukan urusan akidah, melainkan SUNGGUH cerminan ahklak prima dari seorang muslim, dan diajarkan langsung oleh Nabi kita, tidak pandang bulu. Tapi mengucapkan kalimat 'selamat natal', menghadiri acara misa, natalan, dsbgnya, itu jelas ada hubungannya dengan akidah, keyakinan.

Tapi itu kan hanya sepotong kalimat saja? Dari sisi mana itu akan merusak akidah? Kenapa Pak Bambang serius sekali. Maka, duhai orang orang yang masih saja meributkan masalah ini, kalau itu hanya sepotong kalimat saja, kenapa pula kalian ribut? Itu hak mutlak dari Pak Bambang untuk bilang atau tidak, dan kalaupun dia tidak bilang, bukan berarti dia jahat, bukan berarti dia berbahaya, punya paham ekstrem. Lihatlah dengan mata kepala, toleransi yang dimiliki oleh Pak Bambang melebihi hanya sekadar kata kata. Karena boleh jadi, orang2 yang ribut dengan kalimat ini, ya hanya ribut pada level kalimat saja. Pernah meminjamkan mobil ke tetangganya? Pernah memberikan rumah sbg tempat menumpang sementara bagi tetangga Hindu? Pernah tidak? Pak Bambang simply meyakini, dia takut kalau dia mengucapkan kalimat tersebut ke tetangganya, maka terbersit di hatinya sesuatu yang bisa merusak akidahnya. Tapi bukankah Pak Bambang bisa memastikan tidak bermaksud demikian? Tidak bermaksud ikut meyakini perayaan hari besar agama lain tersebut? Itu benar, tapi demi kehati-hatian, dia memilih untuk tidak melakukannya. Dan semua orang seharusnya menghormati pilihannya, bukan justeru berpasangka yang tidak-tidak.

Diskusi ini selalu berulang ulang setiap tahun. Dan entah sampai kapan akan dipahami banyak orang. Saya pribadi, tidak akan bilang kalimat selamat natal, selamat hari raya agama ke teman2 pemeluk agama lain–karena eh karena, duh, saya saja yang muslim nggak pernah bilang selamat hari ulang tahun Nabi Muhammad, selamat tahun baru hijriyah, selamat isra' mi'raj, atau selamat2 lainnya ke banyak orang, sesama muslim. Saya tidak akan mengada adakan hal baru, dan tidak akan mengikut ikut trend yang ada. Yang ada dan jelas ada saja saya keteteran menjalankannya. Tetapi secara pribadi, saya akan meneladani Pak Bambang. Toleransi, menghormati agama lain 'beyond' kata kata, kalimat, dan itu lebih kongkret memunculkan rasa nyaman bagi siapapun.

Karena saya yakin, mengeluarkan akhlak prima sebagai seorang muslim, otomatis mengeluarkan toleransi terbaik yang pernah ada di muka bumi ini.

*Saya minta maaf kalau ada yang tidak berkenan dengan pemahaman ini. Dan boleh jadi pendapat saya keliru. Saya sudah berusaha menuliskannya hati2. Nah, jika kalian membutuhkan pondasi yg lebih kokoh, silahkan merujuk pada penjelasan Buya Hamka soal ini, di search, di googling. Beliau adalah ahli tafsir, dan dalam banyak kesempatan, saya mendengarkan penjelasannya.

(Disalin lewat @blogdetik)

Minggu, 23 Desember 2012

Keadilan Allah dalam Memberi Rizki dan Kekayaan

Berikut adalah tafsir surat Asy Syuraa ayat 27 tentang keadilan Allah dalam memberikan rizki dan kekayaan. Semoga bermanfaat.

Allah Ta'ala berfirman,

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

"Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat." (QS. Asy Syuraa: 27)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, "Seandainya Allah memberi hamba tersebut rizki lebih dari yang mereka butuh , tentu mereka akan melampaui batas, berlaku kurang ajar satu dan lainnya, serta akan bertingkah sombong."

Selanjutnya Ibnu Katsir menjelaskan, "Akan tetapi Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya."[1]

Dalam sebuah hadits disebutkan,

إن من عبادى من لا يصلح إيمانه إلا بالغنى ولو أفقرته لكفر، وإن من عبادى من لا يصلح إيمانه إلا الفقر ولو أغنيته لكفر

"Sesungguhnya di antara hamba-Ku, keimanan barulah menjadi baik jika Allah memberikan kekayaan padanya. Seandainya Allah membuat ia miskin, tentu ia akan kufur. Dan di antara hamba-Ku, keimanan barulah baik jika Allah memberikan kemiskinan padanya. Seandainya Allah membuat ia kaya, tentu ia akan kufur".[2] Hadits ini dinilai dho'if (lemah), namun maknanya adalah shahih karena memiliki dasar shahih dari surat Asy Syuraa ayat 27.

Ada yang Diberi Kekayaan, Namun Bukan Karena Kemuliaan Mereka

Boleh jadi Allah memberikan kekayaan dalam rangka istidroj, yaitu agar semakin membuat seseorang terlena dalam maksiat dan kekufuran. Artinya disebabkan maksiat atau kesyirikan yang ia perbuat, Allah beri ia kekayaan, akhirnya ia pun semakin larut dalam kekayaan tersebut dan membuat ia semakin kufur pada Allah. Ia memang pantas diberi kekayaan, namun karena ia adalah orang yang durhaka. Kekayaan ini diberikan hanya untuk membuat ia semakin terlena dan bukan karena dirinya mulia.

Jadi pemberian kekayaan bukanlah menunjukkan kemuliaan seseorang, namun boleh jadi adalah sebagai istidroj (yaitu untuk semakin menjerumuskannya dalam maksiat). Sebagaimana dapat kita lihat dalam kisah musyrikin Mekkah dalam surat Al Qolam. Allah subhanahu wa ta'ala mengisahkan,

إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ (17) وَلَا يَسْتَثْنُونَ (18) فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِنْ رَبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ (19)

"Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari. dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur." (QS. Al Qolam: 17-19), silakan lihat sampai akhir kisah dalam surat tersebut.

Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As Sa'di menjelaskan,
"Orang-orang yang berdusta ini diuji dengan kebaikan dan harta yang melimpah untuk mereka. Mereka diberikan harta yang begitu banyak, juga diberikan keturunan, umur yang panjang, dan semacamnya yang sesuai dengan kemauan mereka. Dan pemberian ini bukanlah diberikan karena kemuliaan mereka di sisi Allah. Akan tetapi ini adalah istidroj (untuk membuat mereka semakin terlena dalam kekufuran) tanpa mereka sadari."[3]


Allah memberi kekayaan sesuai dengan keadilan Allah, Dan ia pun tahu kondisi terbaik untuk seorang hamba. Namun perlu diketahui, seseorang diberi kekayaan ada dua kemungkinan:
Pertama: Itulah yang Allah takdirkan karena itulah yang pantas untuknya. Jika diberi kefakiran, malah ia akan kufur pada Allah.

Kedua: Boleh jadi juga karena istidroj yaitu membuat seorang hamba semakin terlena dalam maksiat dan kekufuran.

Karena Allah berfirman,

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ

"Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), maka Allah terus akan memalingkan hati mereka." (QS. Ash Shof: 5). Kita harusnya mewaspadai kemungkinan yang kedua ini. Jangan-jangan kekayaan yang Allah beri, malah dalam rangka membuat kita semakin larut dalam maksiat, syirik dan kekufuran.
Sehingga jika sudah kita mengerti hal ini, maka kita mesti iri pada orang yang memiliki kekayaan lebih dari kita. Itu memang pantas untuknya, mengapa kita mesti iri?! Begitu pula dari penjelasan ini seharusnya semakin membuat kita bersyukur pada Allah atas nikmat harta yang Allah beri. Mensyukurinya adalah dengan memanfaatkannya dalam kebaikan.

Semoga Allah beri taufik. Sungguh terasa nikmat jika kita dapat terus mengkaji Al Qur'an walaupun sesaat.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Jumat, 21 Desember 2012

Indikator Kedisiplinan

*) Istiqomah
Secara harfiah, istiqomah berarti teguh dalam pendirian. Konsistensi terhadap apa yang diniatkan haruslah kuat. Seperti perumpamanan tak lekang oleh panas tak lapuk oleh hujan. Setiap langkah yang ditempuh haruslah mengacu kepada tujuan yang diniatkan. Karena ketika ada perubahan niat, sudah pasti langkah yang ditempuh pun banyak yang menyimpang dari proses tindakan yang telah direncakan. Inilah mengapa istiqomah menjadi salah satu syarat bagi terlaksananya kedisiplinan.

*) Penghargaan waktu
Apa pun bentuk tingkah laku, termasuk disiplin, sudah pasti mempertimbangkan waktu. Bagaimana kita dapat memanfaatkan waktu seefektif mungkin, haruslah sudah dipikirkan dalam setiap langkah. Jangan sampai tenaga dan pikiran yang dikeluarkan itu mubadzir. Pada batasan target telah tergambarkan what (tujuan apa yang akan dicapai), when (kapan tujuan itu harus tercapai), dan how (bagaimana cara mencapinya). Dengan penghargaan waktu dalam kedisiplinan.

*) Penyiapan segala kemampuan
Untuk dapat melaksanakan kedisiplinan, haruslah dicurahkan segala kemampuan secara optimal. Maisa merupakan bentuk pencurahan kemampuan yang tidak optimal. Di sini kualitas kedisiplinan berbanding lurus dengan keoptimalan pencurahan kemampuan yang ada.

*) Sabar
Dalam kondisi tertentu, dapat saja diartikan sebagai tidak tergesa-gesa, mau antri, tidak nguyawara, atau mungkin alon-alon waton kelakon. Namun definisi di atas sangat jauh dari arti sabar yang sebenarnya. Sepanjang pemahaman penulis dari keterangan-keterangan yang tersirat dalam Al-Quran, sabar itu memuat sifat dan sikap yang memanifestasikan perencanaan tindakan, taktik, dan teknis pencapaian tujuan. Sementara kedisiplinan tidak akan terlaksana tanpa ada perencanaan tindakan yang matang, taktik (strategi dalam proses), dan teknis (langkah riil yang tepat sasaran) dalam pencapaian tujuan. Dalam konteks sabar, tidak ada istilah berhenti merencanakan, menyusun taktik, dan melaksanakan teknis sebelum tujuan itu tercapai.

Beroda adalah menyadarkan harapan kepada Allah di tengah-tengah kita bekerja (berdisiplin) akan memberikan semangat batin yang kuat. Di samping dapat menghindarkan dari sifat-sifat buruk seperti sombong, iri, dengki, riya', dan sifat buruk lainya. Kita pun insya Allah akan diberi kekuatan dan kemudahan dari Allah sehingga yang kita harapakan dapat tercapai.

*) Tawakkal
Dalam kedisiplinan tidak mengenal putus asa ketika tujuan tidak terapai, berserah dirilah kepada Allah setelah berusaha (tawakkal). Kalimat ini mengingatkan pikiran kita pada keterpautan hati dengan Tuhannya. Manusia bukanlah robot yang ketika sudah diprogram dengan komputer serta merta tujuan akan terapai. Pada suatu saat Tuhan pasti akan menguji umat-Nya yang beriman. Namun sebagai wujud rasa syukur kita atas pemberian akal, kita harus optimis dan membenarkan bahwa sudah menjadi jaminan sosial bahwa tujuan hanya akan tercapai jika ada kedisiplinan. Meskipun orang boleh berkata kegagalan adalah keberhasil yang tertunda, setidaknya telah dilaksanakan kedisiplinan di atas sebagai wujud kita telah berusaha.

Inilah indikator dari pelaksanaan disiplin. Semakin tepat dan menyeluruh indikator dipilih yang kita berikan, semakin tepat dan menyeluruh pula disiplin yang dilaksanan. Niat, istiqomah, penghargaan waktu, penyiapan segala kekuatan, sabar, doa dan tawakkal menjadi indikator utama terlaksananya kedisiplinan.

Oleh: Dedi Yusfar Rasyid

Rabu, 19 Desember 2012

Keutamaan Menuntut Ilmu

‫‫وَلَا رَيْبَ أَنَّ أَوْلَى الْعُلُوْمِ بِذَلِكَ هُوَ:‬‬

‫‫- عِلْمُ الدِّيْنِ، اَلَّذِيْ بِهِ يَعْرِفُ الْإِنْسَانُ نَفْسَهُ وَيَعْرِفُ رَبَّهُ، وَيَهْتَدِي إِلَى غَايَتِهِ، وَيَكْشِفُ طَرِيْقَهُ، وَيَعْلَمُ مَا لَهُ وَمَا عَلَيْهِ،‬‬

‫‫- ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ كُلُّ عِلْمٍ يَكْشِفُ عَنْ حَقِيْقَةٍ تَهْدِي النَّاسَ إِلَى حَقٍّ، أَوْ تُقَرِّبُهُمْ مِنْ خَيْرٍ، أَوْ تُحَقِّقُ لَهُمْ مَصْلَحَةً، أَوْ تَدْرَأُ عَنْهُمْ مَفْسَدَةً.‬‬

‫‫يَقُوْلُ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ» [رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ فِيْ صَحِيْحِهِ]‬‬

Tidak diragukan lagi, bahwa ilmu yang paling berhak mendapatkan berbagai macam fadhilah (keutamaan) adalah:

1. Ilmu agama, sebab, dengannya seseorang:

a. Mengenali dirinya.
b. Mengetahui Tuhannya.
c. Mendapatkan petunjuk (hidayah) untuk menuju dan mencapai tujuannya.
d. Mengungkap dan mengenal jalannya
e. Mengetahui apa hak dan kewajibannya.

2. Segala macam ilmu yang mampu mengungkap hakekat yang:

a. Memberi petunjuk kepada manusia kepada kebenaran, atau
b. Mendekatkan mereka kepada kebajikan, atau
c. Merealisasikan kemaslahatan untuk mereka, atau
d. Menolak dan menjauhkan mereka dari kerusakan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Siapa yang oleh Allah SWT dikehendaki baik, niscaya Allah SWT akan berikan pemahaman kepadanya dalam hal agama". [Hadits shahih diriwayatkan oleh Bukhari].


(dikutip dari kitab: "Ar-Rasul wal 'Ilm" karya DR. Yusuf Al-Qaradawi, hal. 9)

Jumat, 14 Desember 2012

Itu Pilihanmu

2 hari yang lalu, selepas shalat subuh, saya menyalakan TV, dan terarahlah remote ke channel MNC TV. Ada seorang ustadz yang sekilas mirip Habiburrahman El-Shirazy, ternyata setelah saya perhatikan, rupanya beliau adalah Ustadz Wijayanto.

Wah, beliau ini kan ustadz yang sering diundang ke program Bukan Empat Mata saat bulan Ramadhan. Saat ceramah, beliau sering menyelipkan jokes segar, tidak jayus, bercanda tapi tidak bohong. Langsung lah beliau menjadi salah satu 'ustadz favorit' saya dan suami hehehe.

Maka, hari itu, kami pantenginlah ceramah beliau. Ceramah bertema "Oh Mama Oh Papa", membahas tentang cara orang tua mendidik anak, interaksi ortu-anak, ayah-ibu, dan hal-hal yang berkaitan dengan hubungan rumah tangga.

Dalam sesi tanya jawab, salah seorang pemirsa di studio yang merupakan mahasiswa mengajukan pertanyaan yang kira-kira intinya seperti ini: "Ustadz, anak kan jatuh tak jauh dari ortunya. Tapi mengapa Nabi Nuh anaknya durhaka? Sedangkan orang tuanya adalah seorang Nabi?"

Ustadz Wijayanto menjawab kurang lebih begini:

"Dalam kehidupan nyata, ada tidak ortu yang sholeh, tapi anaknya preman? Atau, ortunya preman, tapi anaknya sholeh? Atau, ortunya sholeh, anaknya lebih sholeh? Atau, ortunya preman, anaknya lebih preman? Ada..

Kenapa bisa demikian? Karena, setiap orang memilih untuk melakukan apa yang ingin dia lakukan.

Takdir itu ada 2:

1. Takdir Mughayyarot, yaitu takdir yang merupakan pilihan manusia. Misalnya, memilih untuk berbuat baik, atau berbuat buruk. Manusia bebas memilih, dengan menanggung risiko dari pilihan masing-masing.

2. Takdir Ghoiru Mughayyarot, yaitu takdir yang sudah menjadi ketetapan Allah, tidak bisa diubah-ubah. Misalnya, terlahir sebagai laki-laki atau perempuan.

Begitu juga dengan pertanyaan tadi. Nabi Nuh sudah berdakwah kepada anak dan kaumnya, tapi ternyata sang anak membangkang dan tidak mau ikut dengan ajakan ayahnya. Nabi Luth sudah berdakwah kepada istrinya agar tidak lagi menjadi penyuka sesama jenis karena hal tersebut jelas-jelas sesat, tapi istrinya membangkang. Akibatnya, yang membangkang mendapatkan adzab dari Allah.

Bahkan anak seorang Nabi sekalipun, hidayah tetap milik Allah. Tugas Nabi, dan juga kita sebagai khalifah di muka bumi, hanyalah menyampaikan risalah yang telah tertuang dalam AlQur'an dan Hadits. Sisanya adalah pilihan masing-masing, mau membuka hati menerima hidayah Allah atau tidak."

Gitu deh kurang lebih. Kalo kurang maaf ya pak ustadz, kalo lebih juga maaf hehe. Tapi seingat saya, demikianlah inti dari jawaban beliau :)

Saya sempat googling tentang istilah takdir ghoiru mughayyarot dan mughayyarot yang beliau sebutkan, tapi gak nemu. Mungkin itu istilah beliau, atau mungkin sayanya yang salah keyword ^^v

Well. Apapun namanya, pilihan kita-lah, teman-teman. Karena dalam QS Ar Rad ayat 11 dinyatakan, Allah tidak mengubah nasib suatu kaum, sebelum kaum tersebut mengubah diri mereka sendiri :)

وَاللّهُ أعلَم بِالصَّوَاب

Kamis, 13 Desember 2012

Palestine is in Simi's Heart


Simi loves Islam, and Islam is our way :)

Senin, 10 Desember 2012

Just Let Them Go

When people can walk away from you, LET THEM GO!

Don't try to talk that person into staying with you, loving you, calling you, caring about you, coming to see you, staying attached to you.

Your destiny is never tied to anyone that left.

People leave you because they're not joined to you, and if they're not joined to you, you can't make them stay.

It doesn't mean that they are bad people.

It just means that their part in your story is over, and you've got to know when people's part in your story is over.. so that you don't keep trying to raise the dead.

You've got to know when it's over.

Stop begging people to stay.

Elisa Yuzar

Minggu, 09 Desember 2012

Itulah Mengapa Saya Punya Blog

Ada sangat banyak updates berseliweran di halaman facebook dan twitter saya. Foto, status, link blog pribadi, adalah yang paling sering saya share di sana. 

Namanya juga social media, maka di Twitter dan Facebook, saya punya teman di sana. Dan tidak semua teman ide dan isi otaknya sama dengan saya. Sebagaimana yang pernah saya tuliskan di primary blog saya, tentang Mind, Mouth, and Fingers, bukanlah kuasa saya untuk mengontrol pikiran dan jempol orang lain. Tapi jelas, saya 'berkuasa' terhadap pikiran dan jempol saya pribadi agar terhindar dari membagikan updates-updates.

Terkadang, konten updates yang dibagikan orang lain melalui twitter maupun facebook, sungguh membuat hati gemes dan sedikit kesal. Terutama yang berhubungan dengan perkara yang kita tau betul duduk masalahnya, tapi dengan sembarangan dan sewenang-wenang orang lain membanjiri *bahasa halus dari nyepam alias nyampah* timeline atau newsfeed kita dengan persepsinya yang keliru. See? Benar kan bahwa "We can't control other people's mind, mouth and fingers to think and talk something bad. But we can control ours." ?

Maka dari itulah, ketika saya mendapati orang lain nyampah di newsfeed atau timeline saya, kalau di facebook, saya manfaatkan fitur hiding newsfeed atau tidak lagi menerima update orang tersebut di timeline saya. Kalau di twitter? Jika sudah sampai tahap sangat mengganggu kenyamanan hati, tinggal diunfollow. Kalo gak tega unfollow, bisa dimute, atau jarang-jarang scrolling timeline aja deh hihi. Terserah mau pilih yang mana. Pilihan-pilihan tersebut, dibuat oleh developer, tentulah disertai dengan alasan, ya kan? ;)

Tak jarang, updates yang dibuat orang lain membuat saya kadangkala ingin membuat rebuttal atau sanggahan dengan update status juga. Sesekali, bolehlah. Tapi kalau keseringan dan sampai membuat timeline orang lain penuh dengan rentetan status tak bermutu dari saya, jadi perang dingin deh nanti. Daripada begitu, saya memilih menjelaskan di blog. Jadi, bagi yang mau membaca tulisan saya, tinggal berkunjung ke blog saya. Kalau tak sependapat dengan isi tulisan saya, kolom komentar selalu terbuka.

And I think, that's one more reason why I own blogs :)

Sabtu, 08 Desember 2012

Doa untuk Mereka

Ketika ada yg underestimate terhadapku aku akan berdoa: "Ya Allah jadikanlah aku lbh baik dari apa yg mereka sangka."

Jika ada yg overestimate kepadaku maka aku akan berdoa: "Ya Allah ampunilah aku dari apa yg tdk mereka ketahui dariku."

Jika ada yg memfitnahku maka aku akan berdoa: "Ya Allah ampunilah mereka atau berilah mereka pelajaran sesuai kehendakMu."

~ Ahmad Heryawan

Rabu, 05 Desember 2012

The Power of Punctuation

Punctuation is not really that important, right?  WRONG!  It's very important, and a tiny, misplaced comma or question mark can cost millions of dollars or break someone's heart.

Not convinced?  

Take a look at some of these great examples of punctuation mistakes.  If you didn't previously recognize the importance of punctuation, you will after seeing these!

1)  Dear John Punctuation

The Dear John punctuation example is a very commonly used story about a man who received a beautiful letter from his loved one.  In the letter his girlfriend spelled out, in no uncertain terms, how much she loved and adored John and it was clear to anyone reading her words that she couldn't live without him.  Or could she?

Dear John:

I want a man who knows what love is all about. You are generous, kind, thoughtful. People who are not like you admit to being useless and inferior. You have ruined me for other men. I yearn for you. I have no feelings whatsoever when we're apart. I can be forever happy--will you let me be yours?


What happens to the letter if there were some punctuation mistakes and it was punctuated in an entirely different fashion?

Dear John,

I want a man who knows what love is. All about you are generous, kind, thoughtful people, who are not like you. Admit to being useless and inferior. You have ruined me. For other men, I yearn. For you, I have no feelings whatsoever. When we're apart, I can be forever happy. Will you let me be?



Which letter do you think John would prefer to receive?

2) Woman Without Man

A professor wrote the following sentence on the board and asked his class to punctuate it:

Woman without her man is nothing.

Half of the class punctuated the sentence in the following way:

Woman: without her, man is nothing.

The other half of the class responded with the following:

Woman, without her man, is nothing.

It's clear, from this example, that punctuation is very important indeed!

3) Who's Supplying Who?

Say 'NO' to Drugs from the NMB Police D.A.R.E Officers.

Oops! That one missing comma turned police officers into drug dealers.

4)  Your Grandpa's Life Depends Upon It

"Let's eat Grandpa!"

"Let's eat, Grandpa!"

So now you should fully understand the importance of punctuation.

Minggu, 02 Desember 2012

Jadwal Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2013

Pemerintah merilis jadwal hari libur nasional dan cuti bersama tahun 2013. Jadwal ini berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 menteri dan perwakilannya.

SKB terkait hari libur nasional dan cuti bersama tahun 2013 ini ditandatangani Menko Kesra Agung Laksono, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Azwar Abubakar, dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar serta Sekjen Kemenag Bahrul Hayat di kantor Kemenko Kesra, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (19/7/2012).

Usai ditandatangani, SKB dibacakan Agung Laksono. Menurut Agung, kebijakan cuti bersama bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja serta meningkatkan sektor pariwisata dalam negeri.

Agung menambahkan, cuti bersama merupakan kompensasi bagi PNS yang kesulitan mengambil waktu cuti namun tetap mempertimbangkan kepentingan masyarakat. Misalnya seperti perbankan, RS dan sektor pelayanan publik lain, yang pengaturannya diserahkan pada manajemen kantor masing-masing.

"Setiap PNS hak cutinya 12 hari. Namun kebijakan itu diatur PNS itu sendiri. Bahwa hari libur nasional tahun 2013 yakni 14 hari dan cuti bersama 2013 yakni 5 hari," kata Agung.

Daftar hari libur nasional 2013 :
1. Tahun Baru 2013 pada Selasa 1 Januari
2. Maulid Nabi Muhammad pada Kamis 24 Januari
3. Tahun Baru Imlek 2564 pada Minggu 10 Februari
4. Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1935 pada Selasa 12 Maret
5. Wafat Isa Almasih pada Jumat 29 Maret
6. Kenaikan Isa Almasih pada Minggu 9 Mei
7. Hari Raya Waisak 2557 pada Sabtu 25 Mei * (Borobudur)
8. Isra' Mi'raj pada Kamis 6 Juni
9. Hari Kemerdekaan RI pada Sabtu 17 Agustus
10. Hari Raya Idul Fitri pada Kamis 8 Agustus dan Jumat 9 Agustus
11. Hari Raya Idul Adha pada Selasa 15 Oktober
12. Tahun Baru 1435 H pada Selasa 5 November
13. Hari Raya Natal Rabu 25 Desember

Jadwal cuti bersama tahun 2013 :
1. Cuti bersama Hari Raya Idul Fitri pada Senin 5 Agustus, Selasa 6 Agustus dan Rabu 7 Agustus
2. Cuti bersama Hari Raya Idul Adha pada Senin 14 Oktober
3. Cuti bersama Hari Raya Natal pada Kamis 26 Desember

Sabtu, 01 Desember 2012

What Man Means Without Woman

Man can never live without woman. Never.

Sharing idea. Sharing things. Copyright © 2009 Flower Garden is Designed by Ipietoon blogger template for web hosting Flower Image by Dapino