Rabu, 13 Februari 2013
Tentang Kepo
Selasa, 05 Februari 2013
Jangan Biarkan Dirimu Tersandera Sikap Buruk Orang Lain
Jika ada yang suka iri denganmu, berarti ada yang kau miliki apa yang tidak dia miliki…
Jika ada yang selalu mengusik kehidupanmu, berarti engkau pusat perhatian…
Jika ada yang nyinyir dengan kerjamu, berarti engkau telah bekerja…
Jika ada yang memusuhimu di belakang, berarti engkau ada di depan…
Jangan biarkan dirimu tersandera dengan sikap buruk orang lain terhadapmu..
berjalanlah terus kedepan, meraih cita dan harapan..
……
by: Abdullah Haidir
Kamis, 17 Januari 2013
Tugas Kita untuk Berbaik Sangka
Ah, hari sudah sore.. Sumur itu gelap sekali. Petani itu begitu menyayangi keledainya, sahabat perjuangannya selama belasan tahun menyambung hidup. Maka dicobanya segala cara untuk mengeluarkan sang keledai.
Mula-mula dengan tali. Diulurkannya ke bawah. Diteriakinya sang keledai agar menggigit tali itu. Ditariknya. Dan gagal. Lalu dibuatnya simpul laso. Diulurkannya ke bawah lagi. Diserunya sang keledai masuk ke laso. Ditariknya. Berat. Dan sang keledai berseru-seru serak. Oh itu lehernya terjerat. Gagal lagi. Dicobanya segala cara dengan tali. Dan ia gagal. Merasa tak berguna..
Lalu dicobanya mengulurkan sebatang bambu. "Jepitlah bambu ini dengan kaki-kakimu!", teriaknya. Ditariknya lagi. Dan nihil. Segala cara bambu. Dan semuanya nihil hasil. Dicobanya pula balok-balok kayu. Dengan segala rekadaya. Dan ia makin lelah. Dan harapnya makin menguap. Merembes keluar dari jiwa bersama keringat yang mengkuyupi pakaiannya.
Matahari makin rendah di barat sana, hari kian menyenja. Dan sang petani telah mengambil keputusan bersama keputusasaannya. Ia akan menimbun sang keledai. Biarlah si keledai tua beristirahat di sana. Rehat yang tenang setelah belasan tahun pengabdian. Biarlah.. "Keledaiku tersayang.. Terimakasih atas persahabatan kita. Kini saatnya engkau beristirahat. Istirahatlah dengan tenang.." Matanya basah. Dadanya sesak. Tangisnya tertahan. Tapi dia mulai mengayunkan cangkul. Setimbun demi setimbun tanah meluncur ke dasar sumur.
Si keledai marah ketika segenggam tanah pertama mengenai punggungnya. Tapi makin lama, ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ia mengangkat kakinya, naik ke atas tiap timbun tanah yang jatuh di dekat kakinya. Kadangkala ia harus bergerak ke tepi, menghindari guyuran tanah dari atas. Atau menggoyang tubuhnya hebat-hebat, agar tanah yang menimpa punggung gugur ke bawah. Tapi ia terus naik. Tiap kali ada tanah jatuh, ia naik ke atasnya. Begitu terus..
Hingga senja sempurna menjadi malam. Dan sang petani yang bersedih mengira ia telah sempurna menguburkan keledai kesayangannya. Dalam lelah, dalam payah, dalam duka yang menyembilu hati ia berbaring di samping sumur. Sejenak memejamkan mata, menghayati gemuruh dalam dadanya. Dan saat itulah, sang keledai meloncati tubuhnya dengan ringkikan bahagia, keluar dari sumur tanpa kurang suatu apa.
Tugas kita adalah berbaik sangka. Bahwa yang seringkali kita anggap sebagai musibah, seringkali bukanlah musibah itu sendiri. Bahwa yang seringkali kita anggap sebagai penderitaan, bisa jadi adalah pertolongan Allah dari jalan yang tak kita sangka-sangka.
Tugas kita adalah berbaik sangka. Terutama padaNya.
Tugas kita adalah berbaik sangka. Juga pada manusia.
Sebagaimana bahwa semua orang yang menyakiti, menganiaya, melecehkan, dan menzhalimi diri ini adalah guru bagi kita. Guru yang sejati.
Bukan karena mereka orang-orang bijak. Tapi karena kitalah yang sedang belajar untuk menjadi bijak..
Tugas kita adalah berbaik sangka. Juga pada diri kita ini. Sebagaimana ketika kita menarik seseorang dalam kehidupan kita, tentu tujuannya bukanlah untuk memerinci kesalahan-kesalahannya..
Dalam surah Al-Hujurat Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan orang-orang mukmin untuk tidak saling berburuk sangka:
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa." (Qs. Al-Hujurat [49]:12)
Dari Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: Hindarilah oleh kamu sekalian berburuk sangka karena buruk sangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu sekalian saling memata-matai yang lain, janganlah saling mencari-cari aib yang lain, janganlah kamu saling bersaing (kemegahan dunia), janganlah kamu saling mendengki dan janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling bermusuhan tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. (Shahih Muslim No.4646)
Imam Ali As berkata: "Selama kamu bisa berbaik sangka kepada saudaramu atas ucapan dan perbuatannya, maka janganlah berburuk sangka." (Kulaini, Muhammad bin Ya'qub, al-Kâfi, jil. 2, hal. 362, Hadits 3, Dar al-Kutub al-Islamiah, Teheran, 1365 )
وَاللّهُ أعلَم بِالصَّوَاب
Disalin dari fp Apple
Senin, 14 Januari 2013
The Many Emotions for Which English Has No Words
Age-otori (Japanese): To look worse after a haircut
Arigata-meiwaku (Japanese): An act someone does for you that you didn't want to have them do and tried to avoid having them do, but they went ahead anyway, determined to do you a favor, and then things went wrong and caused you a lot of trouble, yet in the end social conventions required you to express gratitude
Backpfeifengesicht (German): A face badly in need of a fist
Forelsket (Norwegian): The euphoria you experience when you are first falling in love
Gigil (pronounced Gheegle; Filipino): The urge to pinch or squeeze something that is unbearably cute
Litost (Czech): A state of torment created by the sudden sight of one's own misery
Manja (Malay): "To pamper," it describes gooey, childlike, and coquettish behavior by women designed to elicit sympathy or pampering by men
Pena ajena (Mexican Spanish): The embarrassment you feel watching someone else's humiliation
Sgriob (Gaelic): The itchiness that overcomes the upper lip just before taking a sip of whisky
Tatemae and Honne (Japanese): What you pretend to believe and what you actually believe, respectively
Tingo (Pascuense language of Easter Island): To borrow objects one by one from a neighbor's house until there is nothing left
Waldeinsamkeit (German): The feeling of being alone in the woods
L'esprit de l'escalier (French): Usually translated as "staircase wit," the act of thinking of a clever comeback when it is too late to deliver it
Sabtu, 12 Januari 2013
Keep Calm and Say It Plainly
'Writing is an instrument for conveying ideas from one mind to another; the writer's job is to make the reader apprehend his meaning readily and precisely.' – Sir Ernest Gowers in The Complete Plain Words (1954).
'Plain English refers to the writing and setting out of essential information in a way that gives a co-operative, motivated person a good chance of understanding it at first reading, and in the same sense that the writer meant it to be understood.' – Martin Cutts in Oxford Guide to Plain English (2004).


