Minggu, 06 Januari 2013

Rumah itu Hadiah Untukmu


Alkisah, tersebutlah bahwa seseorang bekerja di sebuah perusahaan properti. Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun ia terus bekerja di perusahaan itu. Dan ia "menghabiskan" umurnya di perusahaan itu.

Tanpa terasa, umurnya pun semakin menua, dan pisiknya tidak sekuat dulu lagi, maka ia mengajukan surat pensiun dari perusahaan tersebut.

Pihak perusahaan menerima surat pengajuan pensiunnya dengan satu syarat; hendaklah ia membuat rumah satu unit lagi dan setelah itu ia akan pensiun.

Maka ia pun dengan terburu-buru menyelesaikan "order" terakhir itu, dengan harapan segera menyelesaikannya agar ia segera pensiun.

Karena mengerjakan pembuatan rumah itu dengan terburu-buru, tentu saja kualitas rumah yang dibangunnya tidak sekokoh dan seindah rumah-rumah yang ia bangun sebelumnya.

Setelah pembangunan rumah itu selesai, maka ia pun menyerahkan kunci rumah ke perusahaan tempat ia bekerja.

Tanpa dinyana, pihak perusahaan berkata: "Rumah terakhir itu adalah hadiah perusahaan untuk dirimu".

Seketika lemaslah sekujur tubuh pak tua, betapa tidak, kalau saja ia mengetahui hal itu, tentulah rumah itu akan ia buat sekokoh dan seindah mungkin. Tetapi .. penyesalan memang selalu di belakang, saat seseorang tidak dapat lagi memperbaiki apa yang sudah terjadi.

Begitulah kira-kira kita dengan amal "ukhrawi" kita. Banyak diantara kita yang dalam melaksanakan amalannya dilakukannya secara terburu-buru, tidak itqan, tidak maksimal, kurang memenuhi syarat dan rukun serta adab-adanya, padahal bukankah seluruh amal itu akan menjadi hadiah untuk diri kita?

Bukankah Allah SWT Maha Kaya, sehingga Dia tidak memerlukan amal kita, justru kitalah yang memerlukannya?

Oleh karena itu wahai saudaraku..

Perbaikilah amal kita, lakukan dengan penuh penghambaan kepada Allah SWT, penuhi syarat, rukun dan adab-adabnya, agar kelak menjadi "hadiah" yang kokoh nan indah di akhir kehidupan kita.

(ditulis dari taujih Syekh 'Isham Asy-Syayi')

Jumat, 04 Januari 2013

Iman dan Amal


Iman tidak ada artinya kalau tak berbekas pada amal . Iman yang tak berbekas sama artinya dengan mandul. Dan amalpun tidak pula ada artinya kalau tidak dari dorongan iman. Orang beramal karena mengambil muka kepada sesama manusia, walaupun bagaimanapun baiknya, disebut Riya. Dan riya adalah syirik yang halus. Tidak dapat diterima kalau ada satu masyarakat Islam mengakui beriman dan beragama Islam, padahal tingkah laku dan kebudayaannya bersifat kekafiran. Tidak dapat diterima kalau ada satu negeri penduduknya mayoritas Islam, padahal segala maksiat yang dilarang Islam dibiarkan saja.

– HAMKA -

Kamis, 03 Januari 2013

Jangan Mudah Terpancing Isu


Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar desas-desus yang tidak jelas asal-usulnya. Kadang dari suatu peristiwa kecil, tetapi dalam pemberitaannya, peristiwa itu begitu besar atau sebaliknya. Terkadang juga berita itu menyangkut kehormatan seorang muslim. Bahkan tidak jarang, sebuah negara menjadi kacau balau, hanya karena sebuah berita yang belum tentu benar. Bagaimanakah sikap kita terhadap berita yang bersumber dari orang yang belum kita ketahui kejujurannya ? 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقُُ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu". [Al Hujurat : 6].

Maksudnya, janganlah kalian menerima (begitu saja) berita dari orang fasik, sampai kalian mengadakan pemeriksaan, penelitian dan mendapatkan bukti kebenaran berita itu.

Dalam ayat ini, Allah melarang hamba-hambanya yang beriman berjalan mengikut desas-desus. Allah menyuruh kaum mukminin memastikan kebenaran berita yang sampai kepada mereka. Tidak semua berita yang dicuplikkan itu benar, dan juga tidak semua berita yang terucapkan itu sesuai dengan fakta. (Ingatlah, pent.), musuh-musuh kalian senantiasa mencari kesempatan untuk menguasai kalian. Maka wajib atas kalian untuk selalu waspada, hingga kalian bisa mengetahui orang yang hendak menebarkan berita yang tidak benar.

Oleh: Yuko Siswanto
Pin  : 2954D02D
Twitter : @yukosiswanto

وَاللّهُ أعلَم بِالصَّوَاب

Rabu, 02 Januari 2013

Perbedaan Penggunaan 'TO' dan 'FOR'


Difference-between-to-and-for

Berikut ini pemaparan jelas tentang perbedaan TO dan FOR dalam kalimat, yang diadaptasi dari sebuah video di YouTube.

TO, selalu digunakan jika terjadi perpindahan (transfer) atau pertukaran (exchange) sesuatu dalam kalimat. Jadi, jika Anda ingin mentransfer atau mempertukarkan sesuatu makan digunakan TO.

FOR, selalu digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat atau baik untuk orang yang bersangkutan. Bermanfaat berarti sesuatu yang baik. Jadi jika anda ingin melakukan sesuatu untuk seseorang dengan cara yang baik, maka digunakan FOR.

Sebagai contoh:

I made this lesson ….. you.

Pada contoh ini, saya membuat/menyusun pelajaran. Apakah pelajaran ini baik untuk anda? Ya, pastinya. Jadi, karena ini merupakan sesuatu yang baik dan akan bermanfaat bagi anda, maka kita gunakan FOR.

I made this lesson for you.

Contoh selanjutnya:

I gave the book …. her.

Pada contoh ini, saya sedang memegang sebuah buku, dan saya akan memberikannya kepada seseorang. Jadi, sebenarnya saya sedang mentransfer sesuatu. Karena dalam kalimat ini terjadi transfer/pertukaran, maka digunakan TO.

I gave the book to her.

Contoh lainnya:

I’m going to talk …. you.

Pada contoh ini, ketika berbicara apa yang kita lakukan? Kita mentransfer informasi, sehingga pada contoh ini digunakan TO.

I’m going to talk to you.

Contoh berikutnya:

I will do that …. you.

Jika saya akan melakukan sesuatu untuk anda, maka saya akan membantu anda, memberi anda manfaat, sehingga kita gunakan FOR.

I will do that for you.

Bagaimana dengan contoh berikut:

I sing …. you.

Ketika orang bernyanyi, apakah mereka melakukannya karena ingin mentransfer sesuatu kepada orang lain atau ingin menghibur? Tentunya untuk menghibur dan merupakan sebuah kebaikan, maka digunakan FOR.

I sing for you.

Contoh terakhir,

I go …. school.

Anda tentu sudah tahu bahwa yang digunakan di sini adalah TO. Jika demikian, berarti ada sesuatu yang ditransfer. Apa? Jika anda mengatakan saya pergi ke sekolah, maka sebenarnya anda mentransfer tubuh anda, yakni anda berangkat dari satu tempat ke tempat lainnya. Maka digunakan TO.

Jadi kesimpulannya, TO digunakan untuk transfer atau pertukaran dan FOR digunakan untuk sesuatu yang mendatangkan manfaat bagi orang lain. Tidak jadi masalah apakah tenses yang digunakan pada past, present, atau future, atau jenis grammar apapun dalam kalimat. Yang menentukan adalah apa yang terjadi dalam kalimat tersebut.

Latihan:

1) I took flowers …. you.
2) She did it …. her.
3) Can you give your homework …. your teacher after class?
4) I created this test …. you.
5) She was promoted …. manager.

Tuliskan jawaban anda di kolom komentar di bawah!

Sumber: Let's Speak English

Selasa, 01 Januari 2013

Descriptive Method




The descriptive method of research, as opposed to an experimental or normative method, develops knowledge by describing observed situations, events and objects. The descriptive method is used in most branches of science, as well as in the social sciences.

Descriptive Method
The goal of the descriptive method is to learn about something as it already exists without causing any changes to it.

Intensive vs. Extensive
Descriptive research can focus on one particular object to gain an in-depth knowledge or focus on a variety of related objects to develop general laws.

Intensive Example
An example of an intensive use of the descriptive method would be describing in great detail the structure and composition of an object, such as a work of art or an animal.

Extensive Example
An example of an extensive use of the descriptive method would be observing a variety of animals to understand common behaviors.

Descriptive vs. Experimental
The different between the descriptive method and other uses of the scientific method is that other uses often involve altering something's state to see how it reacts, while the descriptive method focuses on observing it without making any changes.

Source:
Aalto University: Planning an Empirical Study



Taken from: What is the meaning of the descriptive method in research? | Answerbag 
 

Sharing idea. Sharing things. Copyright © 2009 Flower Garden is Designed by Ipietoon blogger template for web hosting Flower Image by Dapino